Generasi Sandwich (beropini 2)
Generasi milenial adalah generasi educated but generasi yang underpaid juga, pada zaman sekarang bisa kita lihat dimana-mana, kapitalisme membuat kebanyakan orang harus overworked. kerja terus, usaha terus dan terkadang hasilnya tidak seberapa sampai membuat burn-out, padahal zaman dahulu itu kita lihat orang tua kita bekerja tidak harus over but can buy anything seperti membeli rumah, membeli mobil, nyekolahin anak, memenuhi kebutuhan dan juga buat cari kerja aja orang zaman dahulu itu tidak harus mengambil S2 atau S3 segala atau ikut sertifikasi ini itu. Hal tersebut wajar sih karena dahulu saingan juga belum sebanyak sekarang, dan pekerja juga masih dilihat sebagai manusia yang butuh istirahat.
Dengan beban yang Generasi milenial rasakan tersebut, kebanyakan mereka merasa terisolasi dan karena hal tersebut juga banyak dari mereka yang terjebak dalam pemahaman sandwich generation, apasih sandwich generation itu ?
Generasi sandwich itu adalah sekelompok orang dewasa berumur 30-40 tahun yang menafkahi tidak hanya anaknya saja namun juga orangtuanya baik itu secara fisik, emosi dan juga ekonomi
Fenomena generasi sandwich sebenarnya ada dimana-mana, namun apasih hal yang menyebabkan generasi sandwich itu bisa ada ? fenomenanya 'katanya' karena umur yang panjang kebanyakan orang dan juga anak muda yang memutuskan untuk mempunyai anak. Dan jika dilihat dari kasus juga, banyak freshgraduate atau anak muda sekarang yang belum kerja ataupun sudah tetapi mereka harus menanggung misalnya beban ekonomi keluarga, biaya adik-adiknya, ditambah orang tua yang sudah tidak bekerja lagi sampai ada juga dari mereka yang harus putus sekolah dan memutuskan untuk bekerja saja karena hal tersebut. Berada pada posisi terhimpit seperti itu tidak gampang, terkadang merasa depresi, anxiety dan perasaan terisolasi adalah hal-hal yang sering dialami oleh generasi sandwich tersebut. Perasaan tersebut wajar, terjadi karena harus membagi fokus untuk mengurusi terkait hidup diri sendiri dan juga orang lain.
Tetapi menurut pandangan islam sendiri, dimana orang tua itu sampai kapanpun akan menjadi 'orang tua' kita dan anak juga tetap 'anak' pasti bagi para orang tua. mungkin fenomena sandwich pertama kali berasal dari pandangan budaya barat dimana pada usia 18 tahun dominan dari mereka tidak lagi membiayai anak-anak mereka, mereka memberikan kebebasan kepada anaknya untuk bisa mengurus diri mereka sendiri dan melepaskan anaknya begitu saja. Dan ketika mereka ditanggung jawabin untuk menafkahi orangtua nya ataupun anaknya, mereka merasa itu menjadi sebuah beban tersendiri.
Sedangkan dalam islam sendiri orang tua tetap membiayai, membantu anaknya sampai anak itu misalkan yang perempuan sudah menikah dan laki-laki sudah bekerja. Begitu pula anak, wajib untuk menafkahi orangtuanya apabila untuk anak yang sudah berpenghasilan.
Namun, boleh juga orang tua menerapkan sistem kepada anaknya yang umurnya sudah mencapai 18 tahun untuk diberikan tanggung jawab untuk bisa mencoba membiayai diri mereka dengan alih untuk menjadikan mereka anak yang bisa bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, dan mendidik mereka menjadi anak yang mandiri itu tidaklah mengapa. But aku pernah baca juga bahwa sebenarnya karakter anak sendiri terbentuk karena pola asuh dari orang tua sejak 0-8 tahun mereka, ditambah dengan apa yang berada di sekeliling mereka. Jadi untuk menciptakan anak yang mandiri sudah bisa dilakukan sejak golden age nya mereka.
Kembali lagi, memberi nafkah kepada orang tua itu sampai kapanpun, karena di dalamnya ada pahala yang besar serta rahmat Allah juga kepada kita sebagai anak untuk megurusi orang tua dengan terbukanya salah satu pintu surga, begitu juga orang tua yang menafkahi anaknya pasti akan mendapat balasan pahala juga dari Allah. Namun akhirnya orang tua itu yang mereka harapkan adalah bagaimana kebaktian anaknya, do'a anaknya dan bukan sekedar finansial semata.
Mungkin Fenomena Sandwich Generation itu ada karena mereka-mereka yang merasa terbebani, 'memang' ada anak-anak yang membebani orang tuanya, ada juga orang tua yang membebani anaknya. Sebenarnya kembali lagi pada pendidikan agama itu sendiri, oleh karena itu jika tahu hakikat dasarnya baik itu hubungan antara orang tua dengan anak, dan pemahaman mengenai agama pasti semua yang terjadi menjadi tolak ukur untuk akhirat dan mengetahui mana yang baik dan tidak.
adapun menghadapi yang namanya Sandwich Generation itu sendiri, kita bisa melakukan beberapa cara yaitu :
- Communicate -
Mengkomunikasikan apa yang anak butuhkan dan apa yang orang tua butuhkan, saling terbuka dengan apa yang terjadi pada diri sendiri kepada orang tua. Saling membantu bukan antara orang tua dan anak saja namun hubungan dengan anggota keluarga lain juga, serta komunikasikan juga apa yang tidak bisa kita lakukan dan jangan memaksakan apa yang bukan ranah kita.
- Manage your money -
Mengatur pengeluaran mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang harus disimpan dan untuk keperluan lainnya, sehingga tidak burn-out dan merasa uangnya habis begitu saja dan tidak tahu kemana. Menyalahkan apa yang bukan untuk disalahkan, contohnya 'aduh uangku habis karena biayain adik dan orangtuaku' huftt thats wrong, padahal dia tidak sadar terhadap uang yang dihambur-hamburkannya di luar dari itu.
- Make your self priority -
Bantu diri sendiri dulu kemudian bantu orang lain, kembali lagi jangan memaksakan apa yang bukan ranah kita. 'Menolak' bukan hal negatif jika kita tidak dapat melakukannya, jujur pada diri sendiri cause your support system is yourself.
and the last..
- Learn Parenting -
Seperti hal yang aku sampaikan tadi, kita juga perlu untuk belajar parenting. Untuk menciptakan diri bagaimana menerapkan sistem yang baik kepada anak sehingga menciptakan karakteristik dan pemahaman agama yang baik kepada mereka sehingga tahu mana baik, buruk, dan kondratnya manusia.
Thanks a lot guys, hope you like beropini kali ini ! ☁
Komentar
Posting Komentar